Minggu, 14 September 2014

  ASET KEUANGAN II
Yuni Suhanti
120413403085
Kamis 4-6




Klaim Utang dan Klaim Ekuitas
                Klaim yang dimiliki oleh pemegang aset keuangan bisa berupa sejumlah uang (pendapatan) yang tetap,atau jumlah yang bervariasi. Dalam kasus pendapatan tetap aset keuangannya dinamakan instrument utang. Asset keuangan yang temasuk dalam kategori ini adalah kredit dan obligasi
                Klaim ekuitas atau disebut klaim residual mewajibkan emiten aset keuangan untuk membayar sejumlah deviden berdasarkan laba yang diperoleh perusahaan. Sehingga pendapatan yang didapat oleh pemilik aset ini tidak tetap bergantung pada profit yang dihasilkan perusahaan. Yan termasuk dalam aset keuangan model ini adalah saham.

Harga Dan Resiko Aset Keuangan
Yang berhubungan langsung dengan konsep harga adalah pendapatan yang diharapkan dari suatu aset keuangan. Berdasarkan arus kas yang diharapkan dan harga suatu aset keuangan maka dapat ditentukan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return). Sebagai contoh jika harga suatu aset keuangan sebesar $100, dan dalam setahun dari sekarang arus kasnya adalah $105, maka tingkat pendapatannya adalah 5%.
Jenis aset keuangan, baik instrument utang maupun instrument ekuitas, dan karateristik dari emiten menentukan tingkat kepastian dari arus kas yang diharapkan. Sebagai contoh, dengan mengamsusikan bahwa emiten tidak pernah gagal membayar atas instrument utang yang diterbitkannya, arus kas dari perusahaan sekuritas dapat diketahui secara pasti. Akan tetapi, yang tidak pasti adalah daya beli dari arus kas yang diterima.
Dalam kasus obligasi yang diterbitkan pemerintah jepang, arus kas diketahui secara pasti jika pemerintah Jepang mampu memenuhi kewajibannya. Namun arus kas mungkin tidak didominasi dalam dollar AS, tetapi dalam yen Jepang. Jadi walaupun arus kas diketahui secara pasti dalam jumlah yen yang akan diterima, dari perspektif investor AS, jumlah dollar AS tidak pasti. Jumlah dollar AS akan tergantung pada kurs antara yen dan dollar pada saat arus kas diterima.
Dari berbagai resiko diatas kita dapat melihat 3 macam resiko yang terdapat dalam aset keuangan antara lain
1.       Resiko yang berkenaan dengan daya beli potensial dari arus kas yang diharapkan.
2.       Resiko ketidak mampuan emiten memenuhi kewajibannya.
3.      Untuk aset keuangan yang arus kasnya tidak didenominasi dalam dollar AS, terdapat resiko bahwa nilai tukar akan berubah kearah negative sehingga menghasilkan jumlah dollar yang sedikit.

Peranan Aset Keuangan
                Aset keuangan memiliki dua fungsi ekonomi utama. Yang pertama adalah untuk mengalihkan dana dari mereka yang kelebihan dana kepada pihak yang memerlukan dana untuk berinvestasikan dalam bentuk aset berwujud. Fungsi ekonomi kedua adalah untuk mengalihkan dana dengan cara sedemikian rupa sehingga resiko yang tidak dapat dihindarkan dalam arus kas yang dihasilkan asset berwujud, dapat dialihkan/dibagikan antara mereka yang membutuhkan dana dan mereka yang menyediakan dana. 
Namun, seperti yang akan kita lihat, klaim yang dimiliki oleh pemegang kekayaan final umumnya berbeda dari kewajiban yang diterbitkan oleh pencari dana final karena aktivitas dari lembaga perantara keuangan (financial intermediaries) yang mentransformasikan keawajiban final menjadi aset keuangan yang disukai oleh publik.
                





Daftar Rujukan

Rosdyana, Dewi. 2014. Aset Keuangan, (online), (http://dewirosdyana.wordpress.com/2014/01/04/aset-keuangan/), diakses tanggal 13 September 2014.
Antika, Devi. 2011. PI Aset Keuangan, (online), (http://deviantika.blogspot.com/2011/12/pi-aset-keuangan_16.html), diakses tanggal 14 September 2014.
Fabossi, Frank. 1999. Pasar & Lembaga Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Diulio, E.A. 10993. Theory and Problems of MONEY AND BANKING (Schaum Series). Jakarta: Erlangga.



  ASET KEUANGAN II
Yuni Suhanti
120413403085
Kamis 4-6




Klaim Utang dan Klaim Ekuitas
                Klaim yang dimiliki oleh pemegang aset keuangan bisa berupa sejumlah uang (pendapatan) yang tetap,atau jumlah yang bervariasi. Dalam kasus pendapatan tetap aset keuangannya dinamakan instrument utang. Asset keuangan yang temasuk dalam kategori ini adalah kredit dan obligasi
                Klaim ekuitas atau disebut klaim residual mewajibkan emiten aset keuangan untuk membayar sejumlah deviden berdasarkan laba yang diperoleh perusahaan. Sehingga pendapatan yang didapat oleh pemilik aset ini tidak tetap bergantung pada profit yang dihasilkan perusahaan. Yan termasuk dalam aset keuangan model ini adalah saham.

Harga Dan Resiko Aset Keuangan
Yang berhubungan langsung dengan konsep harga adalah pendapatan yang diharapkan dari suatu aset keuangan. Berdasarkan arus kas yang diharapkan dan harga suatu aset keuangan maka dapat ditentukan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return). Sebagai contoh jika harga suatu aset keuangan sebesar $100, dan dalam setahun dari sekarang arus kasnya adalah $105, maka tingkat pendapatannya adalah 5%.
Jenis aset keuangan, baik instrument utang maupun instrument ekuitas, dan karateristik dari emiten menentukan tingkat kepastian dari arus kas yang diharapkan. Sebagai contoh, dengan mengamsusikan bahwa emiten tidak pernah gagal membayar atas instrument utang yang diterbitkannya, arus kas dari perusahaan sekuritas dapat diketahui secara pasti. Akan tetapi, yang tidak pasti adalah daya beli dari arus kas yang diterima.
Dalam kasus obligasi yang diterbitkan pemerintah jepang, arus kas diketahui secara pasti jika pemerintah Jepang mampu memenuhi kewajibannya. Namun arus kas mungkin tidak didominasi dalam dollar AS, tetapi dalam yen Jepang. Jadi walaupun arus kas diketahui secara pasti dalam jumlah yen yang akan diterima, dari perspektif investor AS, jumlah dollar AS tidak pasti. Jumlah dollar AS akan tergantung pada kurs antara yen dan dollar pada saat arus kas diterima.
Dari berbagai resiko diatas kita dapat melihat 3 macam resiko yang terdapat dalam aset keuangan antara lain
1.       Resiko yang berkenaan dengan daya beli potensial dari arus kas yang diharapkan.
2.       Resiko ketidak mampuan emiten memenuhi kewajibannya.
3.      Untuk aset keuangan yang arus kasnya tidak didenominasi dalam dollar AS, terdapat resiko bahwa nilai tukar akan berubah kearah negative sehingga menghasilkan jumlah dollar yang sedikit.

Peranan Aset Keuangan
                Aset keuangan memiliki dua fungsi ekonomi utama. Yang pertama adalah untuk mengalihkan dana dari mereka yang kelebihan dana kepada pihak yang memerlukan dana untuk berinvestasikan dalam bentuk aset berwujud. Fungsi ekonomi kedua adalah untuk mengalihkan dana dengan cara sedemikian rupa sehingga resiko yang tidak dapat dihindarkan dalam arus kas yang dihasilkan asset berwujud, dapat dialihkan/dibagikan antara mereka yang membutuhkan dana dan mereka yang menyediakan dana. 
Namun, seperti yang akan kita lihat, klaim yang dimiliki oleh pemegang kekayaan final umumnya berbeda dari kewajiban yang diterbitkan oleh pencari dana final karena aktivitas dari lembaga perantara keuangan (financial intermediaries) yang mentransformasikan keawajiban final menjadi aset keuangan yang disukai oleh publik.
                





Daftar Rujukan

Rosdyana, Dewi. 2014. Aset Keuangan, (online), (http://dewirosdyana.wordpress.com/2014/01/04/aset-keuangan/), diakses tanggal 13 September 2014.
Antika, Devi. 2011. PI Aset Keuangan, (online), (http://deviantika.blogspot.com/2011/12/pi-aset-keuangan_16.html), diakses tanggal 14 September 2014.
Fabossi, Frank. 1999. Pasar & Lembaga Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Diulio, E.A. 10993. Theory and Problems of MONEY AND BANKING (Schaum Series). Jakarta: Erlangga.



  ASET KEUANGAN II
Yuni Suhanti
120413403085
Kamis 4-6




Klaim Utang dan Klaim Ekuitas
                Klaim yang dimiliki oleh pemegang aset keuangan bisa berupa sejumlah uang (pendapatan) yang tetap,atau jumlah yang bervariasi. Dalam kasus pendapatan tetap aset keuangannya dinamakan instrument utang. Asset keuangan yang temasuk dalam kategori ini adalah kredit dan obligasi
                Klaim ekuitas atau disebut klaim residual mewajibkan emiten aset keuangan untuk membayar sejumlah deviden berdasarkan laba yang diperoleh perusahaan. Sehingga pendapatan yang didapat oleh pemilik aset ini tidak tetap bergantung pada profit yang dihasilkan perusahaan. Yan termasuk dalam aset keuangan model ini adalah saham.

Harga Dan Resiko Aset Keuangan
Yang berhubungan langsung dengan konsep harga adalah pendapatan yang diharapkan dari suatu aset keuangan. Berdasarkan arus kas yang diharapkan dan harga suatu aset keuangan maka dapat ditentukan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return). Sebagai contoh jika harga suatu aset keuangan sebesar $100, dan dalam setahun dari sekarang arus kasnya adalah $105, maka tingkat pendapatannya adalah 5%.
Jenis aset keuangan, baik instrument utang maupun instrument ekuitas, dan karateristik dari emiten menentukan tingkat kepastian dari arus kas yang diharapkan. Sebagai contoh, dengan mengamsusikan bahwa emiten tidak pernah gagal membayar atas instrument utang yang diterbitkannya, arus kas dari perusahaan sekuritas dapat diketahui secara pasti. Akan tetapi, yang tidak pasti adalah daya beli dari arus kas yang diterima.
Dalam kasus obligasi yang diterbitkan pemerintah jepang, arus kas diketahui secara pasti jika pemerintah Jepang mampu memenuhi kewajibannya. Namun arus kas mungkin tidak didominasi dalam dollar AS, tetapi dalam yen Jepang. Jadi walaupun arus kas diketahui secara pasti dalam jumlah yen yang akan diterima, dari perspektif investor AS, jumlah dollar AS tidak pasti. Jumlah dollar AS akan tergantung pada kurs antara yen dan dollar pada saat arus kas diterima.
Dari berbagai resiko diatas kita dapat melihat 3 macam resiko yang terdapat dalam aset keuangan antara lain
1.       Resiko yang berkenaan dengan daya beli potensial dari arus kas yang diharapkan.
2.       Resiko ketidak mampuan emiten memenuhi kewajibannya.
3.      Untuk aset keuangan yang arus kasnya tidak didenominasi dalam dollar AS, terdapat resiko bahwa nilai tukar akan berubah kearah negative sehingga menghasilkan jumlah dollar yang sedikit.

Peranan Aset Keuangan
                Aset keuangan memiliki dua fungsi ekonomi utama. Yang pertama adalah untuk mengalihkan dana dari mereka yang kelebihan dana kepada pihak yang memerlukan dana untuk berinvestasikan dalam bentuk aset berwujud. Fungsi ekonomi kedua adalah untuk mengalihkan dana dengan cara sedemikian rupa sehingga resiko yang tidak dapat dihindarkan dalam arus kas yang dihasilkan asset berwujud, dapat dialihkan/dibagikan antara mereka yang membutuhkan dana dan mereka yang menyediakan dana. 
Namun, seperti yang akan kita lihat, klaim yang dimiliki oleh pemegang kekayaan final umumnya berbeda dari kewajiban yang diterbitkan oleh pencari dana final karena aktivitas dari lembaga perantara keuangan (financial intermediaries) yang mentransformasikan keawajiban final menjadi aset keuangan yang disukai oleh publik.
                





Daftar Rujukan

Rosdyana, Dewi. 2014. Aset Keuangan, (online), (http://dewirosdyana.wordpress.com/2014/01/04/aset-keuangan/), diakses tanggal 13 September 2014.
Antika, Devi. 2011. PI Aset Keuangan, (online), (http://deviantika.blogspot.com/2011/12/pi-aset-keuangan_16.html), diakses tanggal 14 September 2014.
Fabossi, Frank. 1999. Pasar & Lembaga Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Diulio, E.A. 10993. Theory and Problems of MONEY AND BANKING (Schaum Series). Jakarta: Erlangga.



  ASET KEUANGAN II
Yuni Suhanti
120413403085
Kamis 4-6




Klaim Utang dan Klaim Ekuitas
                Klaim yang dimiliki oleh pemegang aset keuangan bisa berupa sejumlah uang (pendapatan) yang tetap,atau jumlah yang bervariasi. Dalam kasus pendapatan tetap aset keuangannya dinamakan instrument utang. Asset keuangan yang temasuk dalam kategori ini adalah kredit dan obligasi
                Klaim ekuitas atau disebut klaim residual mewajibkan emiten aset keuangan untuk membayar sejumlah deviden berdasarkan laba yang diperoleh perusahaan. Sehingga pendapatan yang didapat oleh pemilik aset ini tidak tetap bergantung pada profit yang dihasilkan perusahaan. Yan termasuk dalam aset keuangan model ini adalah saham.

Harga Dan Resiko Aset Keuangan
Yang berhubungan langsung dengan konsep harga adalah pendapatan yang diharapkan dari suatu aset keuangan. Berdasarkan arus kas yang diharapkan dan harga suatu aset keuangan maka dapat ditentukan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return). Sebagai contoh jika harga suatu aset keuangan sebesar $100, dan dalam setahun dari sekarang arus kasnya adalah $105, maka tingkat pendapatannya adalah 5%.
Jenis aset keuangan, baik instrument utang maupun instrument ekuitas, dan karateristik dari emiten menentukan tingkat kepastian dari arus kas yang diharapkan. Sebagai contoh, dengan mengamsusikan bahwa emiten tidak pernah gagal membayar atas instrument utang yang diterbitkannya, arus kas dari perusahaan sekuritas dapat diketahui secara pasti. Akan tetapi, yang tidak pasti adalah daya beli dari arus kas yang diterima.
Dalam kasus obligasi yang diterbitkan pemerintah jepang, arus kas diketahui secara pasti jika pemerintah Jepang mampu memenuhi kewajibannya. Namun arus kas mungkin tidak didominasi dalam dollar AS, tetapi dalam yen Jepang. Jadi walaupun arus kas diketahui secara pasti dalam jumlah yen yang akan diterima, dari perspektif investor AS, jumlah dollar AS tidak pasti. Jumlah dollar AS akan tergantung pada kurs antara yen dan dollar pada saat arus kas diterima.
Dari berbagai resiko diatas kita dapat melihat 3 macam resiko yang terdapat dalam aset keuangan antara lain
1.       Resiko yang berkenaan dengan daya beli potensial dari arus kas yang diharapkan.
2.       Resiko ketidak mampuan emiten memenuhi kewajibannya.
3.      Untuk aset keuangan yang arus kasnya tidak didenominasi dalam dollar AS, terdapat resiko bahwa nilai tukar akan berubah kearah negative sehingga menghasilkan jumlah dollar yang sedikit.

Peranan Aset Keuangan
                Aset keuangan memiliki dua fungsi ekonomi utama. Yang pertama adalah untuk mengalihkan dana dari mereka yang kelebihan dana kepada pihak yang memerlukan dana untuk berinvestasikan dalam bentuk aset berwujud. Fungsi ekonomi kedua adalah untuk mengalihkan dana dengan cara sedemikian rupa sehingga resiko yang tidak dapat dihindarkan dalam arus kas yang dihasilkan asset berwujud, dapat dialihkan/dibagikan antara mereka yang membutuhkan dana dan mereka yang menyediakan dana. 
Namun, seperti yang akan kita lihat, klaim yang dimiliki oleh pemegang kekayaan final umumnya berbeda dari kewajiban yang diterbitkan oleh pencari dana final karena aktivitas dari lembaga perantara keuangan (financial intermediaries) yang mentransformasikan keawajiban final menjadi aset keuangan yang disukai oleh publik.
                





Daftar Rujukan

Rosdyana, Dewi. 2014. Aset Keuangan, (online), (http://dewirosdyana.wordpress.com/2014/01/04/aset-keuangan/), diakses tanggal 13 September 2014.
Antika, Devi. 2011. PI Aset Keuangan, (online), (http://deviantika.blogspot.com/2011/12/pi-aset-keuangan_16.html), diakses tanggal 14 September 2014.
Fabossi, Frank. 1999. Pasar & Lembaga Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Diulio, E.A. 10993. Theory and Problems of MONEY AND BANKING (Schaum Series). Jakarta: Erlangga.


Selasa, 09 September 2014

ASET KEUANGAN I
Yuni Suhanti
120413403085
Kamis 4-6




Aset adalah segala sesuatu yang memiliki nilai, artinya dapat kita jual dan mendapatkan uang. Aset terbagi dua yaitu :

1. Asset berwujud yaitu asset yang nilainya sesuai dengan wujudnya misalnya bangunan, mesin yang harganya sesuai dengan ongkos pembuatannya (walaupun tanah tidak ada ongkos pembuatannya namun tanah termasuk asset berwujud.
2. Asset tidak berwujud yaitu asset yang nilainya tidak sebanding dengan wujud fisiknya misalnya surat berharga saham yang wujud fisiknya hanya secarik kertas yang ongkos pembuatannya relatif murah dan tidak sama dengan nilai harga jika secarik kertas tersebut kita jual.


Aset Keuangan adalah asset yang tidak berwujud. 
Nilai dari asset ini tergantung dari nilai arus kas/uang yang akan kita terima dimasa yang akan datang semakin besar nilai arus kas yang akan kita terima dimasa yang akan datang maka semakin tinggi nilai dari asset keuangan tersebut. Pihak yang setuju untuk melakukan pembayaran kas/ klaim atas asset keuangan tersebut disebut emiten atau issuer sedangkan penerima klaim disebut sebagai investor.


Berikut adalah contoh dari asset keuangan tersebut:

Pinjaman / kredit yang diberikan oleh bank Niaga kepada bapak Abdullah untuk renovasi rumahnya
ORI atau Obligasi Ritel Republik Indonesia yang dikeluarkan oleh 
Bank Indonesia yang dapat dimiliki oleh setiap warga Indonesia
Obligasi yang dikeluarkan oleh PT. Anugrah Cipta
Saham biasa yang diterbitkan oleh PT. Telkomsel


 Perbedaan Aset Keuangan dengan Aset Berwujud

 
Aset Keuangan dan asset berwujud secara fisik memang berbeda, pada asset berwujud, bentuk fisiknya dapat langsung dinilai dengan uang sedangkan asset keuangan wujud fisiknya tidak dapat mencerminkan nilai dari asset keuangan tersebut. Namun demikian ada satu hal yang sama-sama dimiliki oleh kedua jenis asset tersebut yaitu arus kas yang akan diperoleh dimasa yang akan datang.
Untuk asset berwujud misalnya kepemilikan atas kapal pesiar maka arus kas yang akan kita peroleh dimasa yang akan datang adalah pendapatan yang akan kita peroleh dari penumpang.
 Pendapatan ini kemudian nantinya akan digunakan untuk pembayaran biaya operasional dan utang, jika ada kelebihannya (laba) maka akan dibagikan kepada para pemegang saham. Sehingga pada akhirnya arus kas yang akan diperoleh dari asset keuangan dihasilkan dari asset berwujud.


Resiko aset keuangan terbagi menjadi tiga :
  

1. Resiko daya beli resiko ini ditimbulkan karena adanya inflasi, sehingga resiko ini disebut juga inflation risk.
2. Resiko kredit ketidakmampuan emiten atau peminjam untuk membayar kewajibannya.
3. Resiko nilai tukar resiko ini timbul jika berinvestasi pada mata uang asing. 
Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan nilai tukar mata uang suatu negara dengan negara lain. Jika nilai tukar berubah kearah negatimaka kita akan menerima uang yang lebih sedikit. Misalnya investasi pada asset yang mata uangnya dolar, jika rupiah menguat maka kita akan menerima rupiah yang jumlahnya lebih sedikit.







Daftar Rujukan

Desaputro, Aana. 2013. Aset Keuangan, (online), (aanadesaputro.wordpress.com/2013/09/29/aset-keuangan), diakses 8 September 2014.
Azar. 2010. Mengenal Aset Keuangan,(online), (http://ug-azar.blogspot.com/2010/03/mengenal-aset-keuangan_12.html), diakses 9 September 2014.
Fabossi, Frank. 1999. Pasar & Lembaga Keuangan.Jakarta: Salemba Empat.
Diulio, E.A. 1993. Theory and Problems of MONEY AND BANKING (Schaum Series). Jakarta: Erlangga